Mengatasi Pengalaman Pahit Masa Lalu

Mengatasi Pengalaman Pahit Masa Lalu
( Tinjauan dari sudut pandang Psikologi)
Sumbangan 3 Artikel dibawah ini Oleh: Rudy Rajagukguk, S.Psi., M.Si. -- Dosen Prodi BK FKIP UNIHAZ Bengkulu


Artikel 1 : Pengalaman Masa Lalu
Masa lalu besar sekali pengaruhnya terhadap kehidupan masa sekarang dan masa mendatang. Freud (1986) secara ekstrim mengatakan bahwa setiap masalah disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Setiap pengalaman masa lalu, baik pengalaman yang positif maupun negatif, seolah-olah seperti menjadi batu penjuru dan penentu kehidupan yang dihidupi saat ini dan masa mendatang (Heath, 1995).
Satu sisi, apa yang dikatakan oleh Freud tersebut ada benarnya. Tidak mungkin seseorang bermasalah terjadi dengan begitu saja tanpa ada penyebabnya. Namum adalah suatu tindakan bodoh dan menipu diri sendiri kalau masa lalu dijadikan alasan untuk tidak mau berubah. Masa lalu hanya salah satu penyebab kondisi saat ini tapi bukan penentu.


Setiap pengalaman yang ditekan di bawah alam sadar biasanya akan muncul secara sadar beruwud mekanisme pertahanan diri, seperti; proyeksi, rasionalisasi, reaksi formasi, dan sebagainya (Jung, dalam Kaplan, 1997). Semakin kita berusaha menutup-nutupi masa lalu kita yang suram, pahit, dan menyakitkan, semakin kita tidak akan bertumbuh secara sehat, baik secara psikologis maupun secara rohani. Hal ini biasanya juga akan diikuti oleh pertumbuhan fisik yang tidak sehat dan tidak normal pula .




Perspektif Psikologi Mengenai Pengalaman Pahit Masa Lalu
Manusia hidup dalam satu kontinum; masa lalu, masa kini; dan masa depan. Disadari atau tidak, manusia sering berusaha melupakan masa lalunya, khususnya pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan untuk dikenang. Namun pada kenyataanya masa lalu tersebut tetap tidak bisa dan tidak mungkin terlupakan. Alasan manusia berusaha melupakan masa lalunya adalah karena pengalaman tersebut tidak menyenangkan dan sakit bila dikenang. Freud (1986) mengatakan, setiap pengalaman pahit dan tidak menyenangkan masa lalu tersebut tidak bisa dilupakan melainkan ditekan ke alam bawah sadar. Semakin kita berusaha menekan pengalaman pahit tersebut, semakin kita kelelahan secara psikologis. Akibatnya hidup kita menjadi tidak seimbang dan semakin tidak sehat secara psikologis dan secara rohani.


Pandangan Teori Gestalt, menawarkan perspektif yang dapat membantu untuk menerima masa lalu. Sadari, ketahui, dan akhirnya terimalah hidup saudara secara utuh.  Akui dan terimalah bahwa ternyata ada hal-hal negatif dan pengalaman yang tidak menyenangkan yang pernah saudara alami sepanjang sejarah hidup saudara. Sama halnya juga ketika saudara menrima dan selalu ingin mengingat dan mengenang pengalaman-pengalaman masa lalu yang menyenangkan. Karena orang yang sehat dan seimbang secara psikologis adalah mereka yang secara sadar mengetahui siapa dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk masa lalunya – baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan dan menerimanya sebagai bagian dari hidupnya.


Bagaimana seharusnya kita menjalani hidup yang sedang kita jalani sekarang. Rogers (dalam Hall & Lindzey, 1993) mengatakan bahwa manusia hidup sekarang dan saat ini (here and now). Oleh karena itu sikap yang seharusnya kita punyai dan perspektif yang kita pakai dalam menjalani hidup ini mamandang hidup sebagai pengalaman hari ini. Masa lalu hanyalah sebagai bagian sejarah hidup dan masa depan adalah sebuah impian yang belum pernah datang. 


Jika kita mampu mempraktekkan hal ini dengan penuh kesadaran dan pemahaman, maka masa lalu – khususnya pengalaman pahit – tidak lagi menjadi hantu yang menakut-nakuti setiap saat. Tapi justru sebaliknya, pengalaman masa lalu akan menjadi guru yang bijak, yang akan selalu mengingatkan kita. Pengalaman masa lalu akan menjadi titik pijakan awal dalam menapaki langkah-langkah hidup didepan yang masih panjang dan penuh misteri.


Bersikaplah positif terhadap hidup saudara. Bersikaplah positif terhadap setiap kejadian masa lalu dalam hidup saudara, apakah itu pengalaman yang menyenagkan maupun yang memilukan. Karena hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup masa sekarang dan masa depan dengan bahagia.   




Perspektif Agama Mengenai Pengalaman Pahit Masa Lalu
Jika dipandang dari sisi Ilmu  Agama, secara umum apa yang dikatakan oleh Psikologi memiliki sikap dan cara pandang yang sama terhadap masa lalu. Namun sedikit berbeda dalam memberi solusi. Pandangan psikologi tidak memberikan solusi berdasarkan kitab suci, namun berdasarkan prinsip-psinsip kemanusiaan/humanisme (Sejarah Psikologi, Hana Panggabean).


Baik Psikologi maupun Teologi menyadari, tidak mungkin untuk melupakan masa lalu. Yang penting untuk dilakukan adalah bagaimana kita memandang masa lalu tersebut. Apakah dengan penuh kemarahan dan rasa bersalah yang berlebihan sehingga pesimis dalam memandang masa depan. Atau sebaliknya memandang secara optimis hidup ini karena masa lalu dijadikan sebagai moment peringatan Tuhan padanya saat-saat melakukan tindakan bodoh.


Langkah yang paling tepat untuk memandang masa lalu adalah menyadari dan menerima masa lalu tersebut, sepahit atau semanis apapun itu. Belajarlah menerimanya sebagai bagian hidup kita, kemudian coba melihat masa depan dari sudut pandang Tuhan dan belajar untuk fokus ke depan. Masa lalu tidak dapat diubah, yang bisa diubah adalah cara kita memandang dan memahaminya. Kita tidak boleh terlalu lama terbuai dan hanyut dengan masa lalu kita karena waktu terus berjalan dan masa depan sudah di depan mata. Masa depan sangat tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Tergantung bagaimana kita mampu menerima masa lalu dan menjalani masa kini sebagai karunia yang harus dihargai. Kesusuhan sehari cukuplah untuk sehari, karena hari esok mempunyai kesusuhannya sendiri.




Kesimpulan
Pengky Andu, mengatakan tidak mungkin masa lalu dilupakan. Masa lalu adalah seperti buku yang dibundel mengenai segala kisah hidup kita. Beliau menawarkan cara menyikapi masa lalu dengan mencoba melihat kuasa supranatural dari luar diri kita (Psikologi Transpersonal) dan jangan terlalu dikendalikan oleh perasaan.
Daniel Januar, memgatakan orang yang mengalami kesulitan untuk mengampuni diri sendiri dan akhirnya juga tidak dapat mengampuni orang lain adalah orang yang tidak mengerti dan mengalami anugerah pengampunan.
Bagaimana, sudah siapkah Anda untuk mengalami anugerah pengampunan itu ?? Mulailah  dari mengampuni diri sendri atas segala kesalahan, kecerobohan, kelalaian, khilaf, amarah, dengki atau apapun yang Anda sesali di masa lalu. Karena itulah rahasia untuk mengatasi pengalaman pahit masa lalu.










Artikel 2 :MANAJEMEN INTIMIDASI Versus MANAJEMEN 360Oleh: Rudy Rajagukguk, S.Psi., M.Si.



Alkisah di negeri antah berantah. Ada suatu negeri yang bernama Negeri Intimidasi. Negeri ini disebut Negeri Intimidasi karena dalam pemerintahannya rajanya menggunakan Manajemen Intimidasi. Suatu ketika, ada seorang rakyat jelata terlibat suatu permasalahan dengan salah seorang anggota keluarga raja Negeri Intimidasi. Sesungguhnya tidak seorang pun yang mau tertimpa musibah, apalagi sampai mengalami musibah terkait dengan anggota keluarga Kerajaan Intimidasi.  Demikian juga halnya dengan sang rakyat jelata, dia tidak pernah mau bermimpi mendapat musibah apalagi benar-benar mengalami musibah yang berurusan dengan anggota keluarga Kerajaan Intimidasi. Fatal akibatnya, bukan hanya dirinya sendiri bahkan seluruh anggota keluarganya bisa menjadi korban intimidasi dan bahkan mungkin akan berakhir dengan korban nyawa.
   
Sesuai dengan prinsip Manajemen Intimidasi yang diterapkan oleh raja Negeri Intimidasi, tentu semua orang sudah dapat menebak kelanjutan kisah musibah sang rakyat jelata yang malang. Sang rakyat jelata harus disalahkan dan harus mau mengaku salah. Tidak perduli dan tidak perlu dicari tahu apa permasalahannya. Tidak perlu dicari kebenaran informasi dari kedua belah pihak yang bermasalah – antara rakyat jelata dan anggota keluarga Kerajaan Intimidasi.  Pokoknya yang namanya rakyat jelata harus salah dan harus mengaku salah. Bila perlu mengaku salah dengan nada memelas dan menyembah-nyembah.


Di Negeri Intimidasi raja adalah penguasa. Penentu dan pengendali benar dan salah. Kalau raja berkata itu salah, ya sudah, itu harus salah. Sebaliknya kalau raja sudah berkata itu benar, ya sudah mau tidak mau, suka tidak suka, itu harus diakui sebagai suatu kebenaran. Kalau berani berbeda, apalagi melawan, nyawa taruhannya. Yang namanya rakyat jelata harus selalu salah dan yang namanya raja harus selalu benar. Dasar zaman memang sudah edan, raja yang menjadi penguasa dan memerintah karena dukungan rakyat jelata dengan seketika bisa lupa diri, arogan dan mengintimidasi rakyat yang mendukungnya. Dan yang lebih tragis lagi, sang Raja Intimidasi sudah bertindak melebihi Sang Khalik dengan menjadi penentu antara benar dan salah.
   
Kisah hidup sang rakyat jelata di Negeri Intimidasi adalah kisah cerita masa lalu. Namun ada hal yang dapat dipelajari dari kisah Negeri Intimidasi ini. Saya mencoba mengulas dan menganalisis Manajemen Intimidasi dari sudut pandang psikologi. Semoga ini dapat menjadi sumber refleksi dan inspirasi bagi para pemimpin yang hidup di Abad 21, Abad yang dikenal dengan sebutan Abad Post Modern.


Terlepas dari kontoversi dan masalah setuju atau tidak setuju dengan faham Post Modern. Ada hal positif yang perlu diakui, direnungkan dan kemudian diterapkan oleh para pemimpin Abad 21 dalam memilih model kepemimpin yang diterapkan dalam memimpin. Salah satu kata yang menjadi kesimpulan Post Modern adalah Humanisme. Pada zaman Post Modern ini, manusia mendambakan agar manusia – penguasa/pemimpin – mengembalikan hak hidup manusia sebagai manusia yang utuh. Tidak dieksploitasi, bukan menjadi alat/hamba manusia lainnya, apalagi diperhamba mesin-mesin ciptaan manusia. Hanya pemimpin yang dianggap manusiawi lah yang akan dicari oleh rakyat (baca anggotanya). Sebaliknya pemimpin yang otoriter dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Humanisme akan tergusur dari kepemimpinannya. Cepat atau lambat pasti akan digilas oleh zaman, akan ditinggalkan pengikutnya. Hanya tinggal menunggu waktunya saja.


Sebagai respon positif terhadap prinsip Humanisme Post Modern, Psikologi Kepemimpinan sebagai bagian dari Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) mengenal suatu teori Manajemen Kepemimpinan 360 (tiga ratus enam puluh derajat). Pengertian dari Manajemen Kepemimpinan 360 secara sederhana dapat dijelaskan bahwa dalam suatu organisasi (lingkup besar/negara maupun kecil) semua orang (baca anggota) adalah sama. Sama-sama anggota organisasi yang memiliki visi, misi dan tujuan yang sama yaitu membesarkan organisasi. Karena dengan besar, maju dan berkembangnya organisasi akan diikuti sejahtera dan makmurnya hidup semua anggota. Semua pribadi/individu adalah sama apapun posisi dan jabatannya masing-masing, apakah sebagai pimpinan, sekretaris, bendahara, anggota dan berbagai variasi jabatan-jabatan lainnya.


Ciri khas dari Manajemen Kepemimpinan 360 adalah tidak ada penguasa/pemimpin yang arogan yang harus ditakuti, kebal hukum, kebal kritikan dan dianggap benar secara mutlak. Dalam konteks organisasi, seorang pesuruh atau office boy memiliki hak yang sama dengan pemimpin organisasi. Oleh karena itu seorang pesuruh atau office boy sekalipun dapat memberikan saran, masukan dan bila perlu kritikan kepada pemimpin demi kebaikan bersama dan kemajuan organisasi. Manajemen Kepemimpinan 360 ini bukan kisah dari negeri dongeng apalagi hanya cerita isapan jempol belaka. Berdasarkan literatur yang saya baca, Manajemen Kepemimpinan 360 ini sudah diterapkan di banyak perusahaan-perusahaan swasta di Amerika. Prinsip Manajemen Kepemimpinan 360 adalah bentuk komunikasi manajemen 360. Pemimpin dapat berkomunikasi secara langsung kepada anggotanya tanpa ada intimidasi dan unsur otoriter. Begitu juga sebaliknya anggotanya dapat berkomunikasi secara langsung kepada atasannya tanpa ada batas-batas birokrasi yang kaku.  


Arus zaman terus berputar dan zaman terus berubah. Suka atau tidak suka waktu terus berjalan. Zaman datang dan pergi secara silih berganti tanpa kita tahu dari dari mana datangnya, akan kemana perginya dan kapan atau dimana tempat berhentinya. Siapa yang tidak dapat mengikuti perputaran arus zaman ini serta menyikapinya secara bijak maka akan tergilas arus zaman ini. Siapa yang kaku dan tidak mau menerima perputaran dan perubahan arus zaman secara bijaksana maka akan menjadi korban perputaran arus zaman itu sendiri.


Setiap pemimpin yang ingin menjadi pemimpin yang up to date dan tidak mau tergilas arus zaman ini maka sebaiknya mengevaluasi konsep manajemen kepemimpinan yang dianut dan diterapkannya selama ini. Kalau masih menerapkan kepemimpinan otoriter, arogan, merasa kebal hukum dan merasa tidak bisa digoyang maka bersiap-siaplah untuk ditinggalkan pengikutnya. Karena bukan hanya anggota/pengikutnya yang akan menggoyang posisinya namun alam semsesta lah yang akan mengoyang dan menggesernya sesuai prinsip perubahan arus zaman.
   
Manajemen Intimidasi ?! sudah bukan zamannya lagi. Oleh karena itu Good Bye…!  Pemimpin Intimidasi. Selamat tinggal Negeri Intimidasi. Dengan semangat siap menerima segala perubahan, sambutlah dengan bijaksana zaman Post Modern. Selamat datang Pemimpin 360.   










Artikel 3 : PROSES HIDUPOleh: Rudy Rajagukguk, S.Psi., M.Si.


Seiring berputarnya waktu, proses hidup terus berjalan.

Perputaran proses hidup terus berjalan tanpa kenal kompromi dan henti.

Jangan pernah berhenti berproses.

Jangan buang-buang waktumu dengan menyesali masa lalu.

Karena waktu terus berputar dan proses hidup terus berjalan.

Sebelum melanjutkan proses hidup, berhentilah sejenak.

Ambil waktu teduh beberapa saat.

Sisihkan waktu hening sejenak untuk berefleksi.

Petiklah pelajaran dan hikmah dari setiap pengalaman masa lalumu.

Apapun pengalaman masa lalu itu. Apakah pengalaman pahit, maupun pengalaman manis.

Khususkan watu tertentu untuk bermimpi dan merangkai inspirasi-inspirasi masa depanmu seindah dan sesempurna mungkin.

Suatu impian indah dan besar akan terjadi pada waktunya.

Selamat berproses…


Admin; Terimakasih atas sumbangan artikelnya, mudah2an Blog ini dapat terus berkontribusi terhadap pengembngan ilmu Psikologi dan Bimbingan Konseling



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon untuk Komentar ANDA.........................