PIKUN

Ditulis Oleh ; Wahid Suharmawan


A. Pengertian Pikun
Hakikat dari pikun ialah penurunan kemampuan berpikir (kognitif) seseorang yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan bernalar, dan penurunan kemampuan memecahkan masalah sehari-hari. Pikun dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah dementia. Istilah ini melukiskan kemunduran secara

perlahan pada fungsi intelektual dan sosial yang dialami seseorang. Makin lama makin bertamah berat, yang disebabkan oleh gangguan pada jaringan otak.

Tiga ciri-ciri penderita penyakit pikun yaitu:
1. Adanya kemunduran kecerdasan atau intelektualnya.

2. Kemunduran tersebut bersifat perlahan-lahan yang semakin memburuk. Jadi orang yang mendadak kehilangan fungsi intelektual, misalnya sesudah mengalami geger otak, atau infeksi otak, tidaklah termasuk dalam kategori pikun.

3. Kemunduran intelektual tersebut disebabkan oleh gangguan-gangguan pada otak, apapun sebabnya.

B. Faktor-Faktor Penyebab Pikun
Beberapa diantara penyebab pikun adalah:

1. Faktor Usia
Orang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal baru yang dipelajarinya, beberapa sebab diantaranya adalah, kurangnya motivasi dari orang lansia untuk mengingat sesuatu, gangguan pendengaran yang dialami oleh lansia serta disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap objek yang dipelajari.

2. Menghabiskan waktu dengan banyak tidur.
Sebuah studi lainnya yang dilakukan para ahli dari University Hospital of Madrid, Spanyol terhadap 3.286 pria dan wanita berumur 65 tahun ke atas dan dipublikasikan dalam European Journal of Neurology ternyata mendukung studi terbaru ini. Dalam studinya ini, setiap responden ditanya mengenai kesehatan dan pola hidupnya, termasuk berapa jumlah jam tidurnya dalam seharinya. Para responden kemudian dipantau jumlah jam tidurnya selama 3 tahun. Dari situ peneliti menemukan mereka yang tidur sebanyak 8 atau 9 jam setiap malamnya memiliki penyakit pikun yang lebih tinggi dua kali lipat dibanding mereka yang hanya tidur 6 jam semalamnya.

3. Menurunnya kemampuan regenerasi sel otak
Sel-sel saraf pada penderita Alzheimer tidak memiliki kemampuan memulihkan synapse yang sudah aus, atau lebih jauh lagi membentuk jaringan synapse baru. Padahal, kemampuan stabilisasi atau regenerasi synapse, dalam kondisi normal, tetap ada pada sel saraf manusia lanjut usia. Pada penderita pikun akibat penyakit Alzheimer, penurunan drastis kemampuan regenerasi sel saraf, sebagian diakibatkan mutasi genetika dan sebagian lagi akibat pengerasan protein tertentu di dalam otak. Sehingga menyebabkan kepikunan.

4. Gaya hidup yang tidak sehat.
Sejumlah ahli kedokteran menyimpulkan, gaya hidup sangat berpengaruh terhadap kepikunan. Gaya hidup yang dimaksud adalah kebiasaan buruk yang sering dilakukan, misalnya merokok, minuman yang mengandung alkohol, penggunaan obat bius dan sebagainya, makanan yang berkadar lemak tinggi. Kebiasaan buruk tersebut di luar dugaan ternyata bisa menyebabkan para pelakunya cepat pikun dan pelupa.

5. Akibat Stress
Stres juga dapat menjadikan seseorang mudah mengalami kepikunan. Menurut Zevan Khachanurian dari The National Institute of Aging, Los Angeles, Amerika Serikat, sel-sel di hippocampus (bagian otak sebelah dalam) terpaksa bekerja lebih keras pada kondisi stres. Akibatnya, otak menjadi lelah dan mudah rusak. Tidak seperti sel-sel tubuh lainnya, sel otak yang rusak tidak bisa diganti.

Daftar Pustaka
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
http://kabarondonesia.com
http://www.lampungbarat.go.id
http://www.nurfahmi.wordpress.com
http://health.detik.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon untuk Komentar ANDA.........................